Seribu satu hari dilewati, di bawah langit yang sama selalu menemani
Tidaklah cukup kita menabur janji, bukti sejati yang selalu diharapkan KAMMI
Tidaklah cukup kita menabur janji, bukti sejati yang selalu diharapkan KAMMI
Pantun pengantar di atas menunjukkan bagaimana, kita yang merupakan
bagian dari KAMMI mungkin telah dirasa ‘banyak’ melewati hari-hari bersama
KAMMI. Layaknya sebuah komunitas maupun organisasi yang mengharapkan untuk
dibesarkan dari para pengusungnya, bukan sebaliknya. Berisi para pemuda yang
syarat akan semangat, harapan, dan cita-cita serta tentu saja modal
intelektual. KAMMI memiliki visi sebagai wadah perjuangan permanen yang akan
melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat
Islam di Indonesia. Pemimpin masa depan yang tangguh dalam visi tersebut
mungkin perlu digarisbawahi, karena disitulah salah satu output dasar yang nyata sebagai awal membentuk masyarakat yang
Islami. Sosok seorang pemimpin diharapkan mampu mengubah jalannya kondisi
maupun gejala sosial yang sedang berlaku di masyarakat. Pemimpin yang ideal,
mungkin itu yang didambakan. Tapi, ke-’ideal'-an seorang pemimpin masih terlalu
abstrak jika kita hanya berpatok pada pemikiran individu maupun kelompok.
Cukuplah apa yang diturunkan dan contoh yang diberikan oleh Sang Pencipta setiap
makhluk jadi ukurannya dan bisa disepakati. Ayat 120 dalam Surat An Nahl dapat
menjadi telaah tentang sosok Ibrahim alaihissalam
sebagai pemimpin, ‘Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada
Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan)’. Setidaknya dalam ayat tersebut menjelaskan dua
syarat menjadi seorang pemimpin. Pertama adalah sikap patuh kepada Allah dan
yang kedua adalah bersikap hanif, tentang
kata ini al Hafizh Ibn Katsir mengartikan hanif
adalah menyimpang dari syirik, menuju tauhid. Dari kedua hal tersebut, diyakini
bahwa seorang pemimpin adalah orang yang mampu menjaga keyakinannya dan menyandarkan
dirinya pada ketauhidan. Sosok pemimpin yang diharapkan dalam Visi KAMMI, sosok
yang berpasrah diri (Islam) kepada Tuhannya yang abadi. Seorang Muslim.
“Agama dan kekuasaan adalah
seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika salah
satu tidak ada, maka yang lain tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah
pondasi sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya
pondasi akan rusak dan jika tidak dijaga, ia akan hilang”
itulah yang dikatakan oleh Imam al Ghazali terkait agama dan kekuasaan. Kekuasaan
yang tidak dapat dipisahkan dari agama (Islam) tersebut tidak akan dimiliki
tanpa adanya kepemimpinan. Hal tersebut telah di contohkan oleh pemimpin
terbaik, Muhammad salallahualaihi wassalam. Pemimpin
yang membuat dunia bersimpati dengan para pengikutnya dan apa yang diperjuangkannya.
Beliau menunjukkan kekuasaan terbaiknya walaupun terkadang tidak tersurat.
Madinah yang merupakan kota dengan masyarakat Islami pertama yang sukses Beliau
terapkan dengan melalui segala pengorbanan dan perjuangannya. Seperti Madinah
yang merupakan teritori masyarakat Islam yang dibangun sebelum menyebarkannya
lebih luas lagi, KAMMI pun berusaha dalam semangatnya membangun masyarakat
Islami di wilayah Indonesia. Sehingga, kemampuan anggotanya untuk mengenal dan
memahami Negara yang menjadi wilayah geraknya sangat diperlukan. Negarawan
mungkin menjadi kata yang tepat untuk sosok yang mampu mengenal bahkan hingga
berkorban untuk negaranya. Dalam artian secara lebih panjang menyebutkan bahwa
negarawan merupakan orang yang berjasa dan rela berkorban demi bangsa dan
negaranya serta mendahulukan kepentingan bersama dalam mengambil setiap
keputusan. Tapi, bagi penulis yang merupakan rakyat biasa yang berusaha
mencinta negaranya dengan sederhana mengartikan bahwa seorang negarawan itu tidak membuat susah Negara dimana
tempat hidupnya. Tidak ada yang mampu mengukur niat, dalam hal lainnya seperti
ilmu dan pengorbanan yang semakin tinggi, namun hal tersebut membuat semakin
sombong, tidak tahu diri, dan minta imbalan (baca: korupsi). Hal demikianlah
yang harus dilawan dan dihindari. Pola pikir dan gerak seorang anggota Negara mampu
memberikan yang terbaik untuk Negaranya, namun imbalan yang diharapkan adalah
dari sang Pencipta Negara berdiri dan setiap makhluk yang mengisinya, yaitu
Allah Azza wa Jalla. Orientasi ini tidak ditemukan dalam ilmu kenegaraan,
ekonomi, ataupun sosial yang mengajarkan materialisme, untung-rugi
(oportunistis), dan humanisme. Orientasi yang didapat ketika mengetahui dan
memahami Islam secara menyeluruh. Begitulah jiwa, semangat dan dasar seorang
negarawan yang diharapkan, bersandar pada hal yang bersifat abadi. Sehingga,
mampu melakukan yang terbaik tidak hanya Negara yang dihadapinya sekarang,
tetapi juga negeri akhirat kelak. Memperoleh sebaik-baiknya tempat kembali
tidak hanya untuknya , tetapi juga untuk setiap yang dipimpinnya. Itulah ‘Muslim
Negarawan’ku.
Picture from: kammi ipb
Reza Dewantoro, Anggota Biasa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
Institut Pertanian Bogor
Bogor
Institut Pertanian Bogor
Bogor


