Tak perlu di pungkiri sifat marah memang menjadi salah satu
bagian dari diri kita, orang-orang yang memiliki hati. Namun, apakah itu
menjadi jalan keluar dari setiap masalah atau ujian yang dihadapi? Justru tidak
kawan,.hal itu hanya menambah “luka” yang tidak hanya kita terima, tapi
terhadap orang-orang di sekitar kita. Dapat dikatakan marah ini menjadi salah
satu kanker yang sangat ganas yang bahkan dokter terbaik pun akan lepas tangan.
Hanya satu ‘dokter’ yang mungkin akan sedikit menyembuhkan kanker itu,.. yaitu
sabar,dengan dibarengi wudhu (bagi yang muslim) mungkin dapat membuat lebih
jernih, karena sesungguhnya air wudhu suci lagi menyucikan. Ada pepatah bilang,
senjata terbaik sama sekali tidak akan berguna jika orang yang ada di belakang
senjata itu bodoh. Seperti itu lah kita memiliki hati, asahlah hati kita sebaik
mungkin,.jikapun ingin marah, silahkan lakukan pada diri sendiri dalam rangka
introspeksi diri bukan mengurangi apa yang telah dicukupkan. Apakah ujian-ujian
yang datang selalu membuatmu terangsang untuk marah? Sungguh kawan, ujian itu banyak dan silih berganti berdatangan selama
kita bernafas, tapi apakah teman akan seperti itu. Bukankah ada yang
bilang, mendapat seribu musuh itu lebih mudah daripada mendapatkan seorang teman.
Jagalah teman-teman di sekitar kita, membuat teman mengerti bukan dengan cara
menyerah dan pasrah. Tapi sebaliknya tunjukkanlah dengan teladan yang optimal.
Cek kembali niat apa yang kita gunakan dalam menarik hati (membuat mengerti) teman
kita,.apakah hanya sebatas agar teman mengerti kita? Sungguh itu adalah hal
yang keliru, karena teman kita bukan milik kita, tapi milik Tuhan yang Maha
Sempurna. Niatkan untuk Tuhan kita, jika Tuhan kita sudah ridha jangankan teman
kita, musuh pun akan mengerti kita.
Dan bagi teman-temannya pun tidaklah baik membiarkan teman
yang sedang kesusahan, jadilah pribadi yang mengerti lebih dulu sebelum
dimengerti. Setiap detik yang kita lalui tidak akan kembali, apakah detik-detik
itu hanya untuk diri kita sendiri? Sayang sekali jawabannya, TIDAK. Dengan tiap orang memiliki kesibukan, bukan
berarti selalu menganggap pribadi memiliki waktu paling penting. Dengan tiap
orang memiliki kemapuan, bukan berarti selalu menganggap pribadi jadi sedikit
tidak penting dalam bagian tugas. Dengan tiap orang memiliki kesabaran, bukan
berarti selalu menganggap pribadi jadi yang memiliki emosi (amarah) sehingga
ingin selalu dimengerti. Pikirkan kawan apakah waktumu akan kembali, apakah
kematian tidak akan mendatangimu, apakah kalian tidak menginginkan surgaNya?.
Kata yang paling mengerikan yang terkadang sering saya dengar, “dengan atau
tanpa adanya saya semua juga akan selesai”. Sangat Mengerikan. lalu,.dimana
kita memposisikan diri kita? Apakah kita tidak malu dengan Tuhan yang telah
menciptakan kita, apakah kita tidak bersyukur dengan diizinkan hidup olehNya,
sungguh kalaupun itu terjadi maka kita sudah zalim (tidak adil) pada Tuhan
kita. Cobalah minimal lakukan untuk diri kita sendiri,diri yang diizinkan
olehNya diciptakan dengan sempurna.#red