Jumat, 20 Juli 2012

Percikan Kehidupan


Tak perlu di pungkiri sifat marah memang menjadi salah satu bagian dari diri kita, orang-orang yang memiliki hati. Namun, apakah itu menjadi jalan keluar dari setiap masalah atau ujian yang dihadapi? Justru tidak kawan,.hal itu hanya menambah “luka” yang tidak hanya kita terima, tapi terhadap orang-orang di sekitar kita. Dapat dikatakan marah ini menjadi salah satu kanker yang sangat ganas yang bahkan dokter terbaik pun akan lepas tangan. Hanya satu ‘dokter’ yang mungkin akan sedikit menyembuhkan kanker itu,.. yaitu sabar,dengan dibarengi wudhu (bagi yang muslim) mungkin dapat membuat lebih jernih, karena sesungguhnya air wudhu suci lagi menyucikan. Ada pepatah bilang, senjata terbaik sama sekali tidak akan berguna jika orang yang ada di belakang senjata itu bodoh. Seperti itu lah kita memiliki hati, asahlah hati kita sebaik mungkin,.jikapun ingin marah, silahkan lakukan pada diri sendiri dalam rangka introspeksi diri bukan mengurangi apa yang telah dicukupkan. Apakah ujian-ujian yang datang selalu membuatmu terangsang untuk marah? Sungguh kawan, ujian itu banyak dan silih berganti berdatangan selama kita bernafas, tapi apakah teman akan seperti itu. Bukankah ada yang bilang, mendapat seribu musuh itu lebih mudah daripada mendapatkan seorang teman. Jagalah teman-teman di sekitar kita, membuat teman mengerti bukan dengan cara menyerah dan pasrah. Tapi sebaliknya tunjukkanlah dengan teladan yang optimal. Cek kembali niat apa yang kita gunakan dalam menarik hati (membuat mengerti) teman kita,.apakah hanya sebatas agar teman mengerti kita? Sungguh itu adalah hal yang keliru, karena teman kita bukan milik kita, tapi milik Tuhan yang Maha Sempurna. Niatkan untuk Tuhan kita, jika Tuhan kita sudah ridha jangankan teman kita, musuh pun akan mengerti kita.
Dan bagi teman-temannya pun tidaklah baik membiarkan teman yang sedang kesusahan, jadilah pribadi yang mengerti lebih dulu sebelum dimengerti. Setiap detik yang kita lalui tidak akan kembali, apakah detik-detik itu hanya untuk diri kita sendiri? Sayang sekali jawabannya, TIDAK. Dengan tiap orang memiliki kesibukan, bukan berarti selalu menganggap pribadi memiliki waktu paling penting. Dengan tiap orang memiliki kemapuan, bukan berarti selalu menganggap pribadi jadi sedikit tidak penting dalam bagian tugas. Dengan tiap orang memiliki kesabaran, bukan berarti selalu menganggap pribadi jadi yang memiliki emosi (amarah) sehingga ingin selalu dimengerti. Pikirkan kawan apakah waktumu akan kembali, apakah kematian tidak akan mendatangimu, apakah kalian tidak menginginkan surgaNya?. Kata yang paling mengerikan yang terkadang sering saya dengar, “dengan atau tanpa adanya saya semua juga akan selesai”. Sangat Mengerikan. lalu,.dimana kita memposisikan diri kita? Apakah kita tidak malu dengan Tuhan yang telah menciptakan kita, apakah kita tidak bersyukur dengan diizinkan hidup olehNya, sungguh kalaupun itu terjadi maka kita sudah zalim (tidak adil) pada Tuhan kita. Cobalah minimal lakukan untuk diri kita sendiri,diri yang diizinkan olehNya diciptakan dengan sempurna.#red