Selasa, 13 November 2012

Manajemen penjualan (contoh produk; Soup Cream)


Produk soup cream yang akan dipasarkan ke area publik, diperkirakan masih dalam tahap awal. Tahap permulaan dalam siklus daur hidup produk masih dalam tahap perkenalan. Dalam tahap ini produk masih belum dikenal oleh konsumen. Sehingga produk yang akan dipasarkan masih banyak perlu penanganan khusus dari produsen. Secara nyata pada tahap perkenalan ini banyak terjadi pertumbuhan penjualan yang lambat. Pertumbuhan penjualan ditandai hasil yang lambat dalam mencapai target pemasaran dan keuntungan. Pertumbuhan yang lambat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah kelambatan dalam perluasan kapasitas produksi, masalah teknis, kelambatan dalam penyediaan produk untuk konsumen terutama di bidang distribusi melalui pengecer, serta keengganan konsumen untuk mengubah pola kebiasaan.

Pada tahap ini perusahaan cenderung menjual barangnya lebih tinggi dan membatasi produk, alasannya ongkos produksi yang masih tinggi, masalah teknologi yang belum sepenuhnya dapat diatasi, dan biaya promosi tinggi. Selain itu dapat juga dilakukan upaya yang diantaranya adalah melakukan promosi produk di berbagai media dan melakukan promo harga. Melakukan promosi produk dilakukan agar produk soup cream yang di tawarkan akan lebih sering dikenal dan familiar di konsumen. Hal itu mampu mempengaruhi keputusan konsumen, terutama dalam situasi atau keadaan yang tidak terduga. Menurut Kotler, Bowen, dan Makens (1990) dalam Kohler (1997) terdapat dua faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang dalam proses pengambilan keputusan pembelian, yaitu situasi tidak terduga (Unexpected situation) dan sikap terhadap orang lain (Respect to Others). Sebagai produsen, kita mengeluarkan promosi produk baru (soup cream) untuk usaha yang dimaksudkan untuk menyebar luaskan, memperkenalkan kepada para konsumen. Dengan promosi produk baru ini menjadi hal yang sangat penting untuk mengenalkan produk baru, setidaknya perhatikan faktor pendukung STP (segmentation, targeting, positioning) dan marketing mix (product, price, place dan promotion, procurement, public awareness) (Purba 2011). Promo harga dapat dilakukan juga pada soup cream yang baru di kenalkan,hal ini tentunya di dukung oleh finansial produksi yang sangat baik. Jika hal ini dilakukan, pangsa pasar diperkirakan akan luas karena dapat menjangkau semua lapisan untuk mencoba merasakan produk. Dalam beberapa kasus, beberapa produk yang sudah menjadi kebiasaan konsumsi dan dikenal brand nya lebih dapat bertahan lebih stabil. Menurut Kohler (1997), beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam tahap perkenalan sebuah produk adalah:
a.       Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy)
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang tinggi. Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan yang mana akan digunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari pemasaran.
b.      Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi. Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi untuk menekan biaya pemasaran.
c.       Strategi penetrasi cepat (rapid penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya promosi yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat dan pangsa pasar yang paling besar.
d.      Strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya promosi yang rendah

            Perkembangan produk di masyarakat pada setiap produk memiliki kesempatan untuk mencapai tahap dewasa. Pada tahap ini ditandai dengan tercapainya titk tertinggi dalam penjualan perusahaan. Dalam tahap ini dilakukan strategi pemasaran kreatif untuk memperpanjang hidup suatu produk termasuk produk soup cream, strategi tersebut dapat disebut innovative maturity. Hal tersebut mendukung agar dilakukan upaya-upaya yang mampu mempertahankan kelangsungan hidup produk. Upaya yang dapat dilakukan pada saat produk soup cream ini mencapai tahap kedewasaan meliputi inovasi varian rasa, menciptakan produk baru yang sejenis, serta terus mengembangkan keunggulan produk. Inovasi varian rasa yang sering dilakukan pada setiap produk konsumsi, dapat juga digunakan pada produk soup cream. Berbagai hasil laut dapat digunakan sebagai variasi untuk rasa maupun flavor yang khas. Seperti kita ketahui, bahan baku yang berasal dari laut memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga pada asam amino yang terdapat didalamnya mampu mmberikan pengaruh pada produk yang dihasilkan. Tidak hanya terbatas pada udang, beberapa jenis ikan laut dapat digunakan dalam pembuatan soup cream tersebut. Menciptakan produk baru yang sejenis dilakukan untuk me-refresh pandangan konsumen serta mengurangi resiko negatif dari kejenuhan konsumen. Pada tahapan maturity, menciptakan produk baru yang sejenis ini dapat dilakukan pada tahap Stable Maturity yaitu tahap dimana penjualan menjadi datar yang disebabkan oleh jenuhnya pasar. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah terus mengembangkan keunggulan produk. Hal itu dapat dilakukan untuk menggenjot penjualan jika sempat terjadi penurunan. Secara nyata antisipasi penurunan penjualan dapat di antisipasi dengan mningkatkan kepercayaan konsumen, dengan meningkatkan keunggulan produk. Pada tahap akhir upaya yang dilakukan dapat berupa melakukan promosi iklan terus menerus yang lebih menarik. Hal ini dapat menunjukkan promosi merupakan bagian dari komunikasi antara produsen dengan konsumen. Sehingga kestabilan promosi atau bahkan inovasi promosi harus dilakukan untuk menjaga produk soup cream pada saat mencapai tahap kedewasaan.
                Dalam melakukan promosi agar dapat efektif perlu adanya bauran promosi, yaitu kombinasi yang optimal bagi berbagai jenis kegiatan atau pemilihan jenis kegiatan promosi yang paling efektif dalam meningkatkan penjualan. Dalam hal ini ada empat jenis kegiatan promosi, antara lain (Purba 2011):
1. Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non personal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang pembelian. Periklanan menawarkan suatu produk kepada konsumen dengan cara mengemukakan alasan supaya membeli
2. Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), yaitu bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian atau kegiatan mempromosikan suatu produk dengan cara mendatangi ke tempat konsumen berada, oleh seorang wiraniaga/salesperson. Dengan adanya kontak langsung antara wiraniaga dan konsumen, maka terjadilah komunikasi dua arah.
3. Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat ilmiah) atau merupakan usaha untuk merangsang permintaan dari suatu produk secara non personal yang bersifat komersial. Tentang produk tersebut di media cetak dan media elektronik, maupun hasil wawancara yang ditampilkan dalam media tersebut. Cara ini sangat baik untuk memperkenalkan perusahaan atau produk yang dihasilkan, karena publisitas dapat mencapai pembeli yang potensial yang tidak dapat dicapai dengan advertensi dan personal selling.
4. Promosi Penjualan (Sales promotion), yaitu suatu bentuk promosi diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk merangsang pembelian. Promosi penjualan menawarkan suatu produk dengan cara memberikan perangsang supaya membeli. Perangsang ini bisa berupa uang, barang atau pelayanan tambahan lainya yang biasanya tak disertakan bersama produk tersebut. 

Sumber :  
Kotler, Philip (1997), Marketing  Management Analysis, Planning Implementation and Control, 9nded. New   Jersey: Prenctice-Hal, Inc, dalam Kismono (2001:342).
Purba F H K. 2011. Memikat konsumen dengan Promosi. http://pondokibu.com/2453/memikat-konsumen-dengan-promosi/  [24 Mei 2012]

Peran Diri Pribadi dalam Pembangunan Bangsa


Sebelum menuju ke peran terhadap bangsa ini, ada baiknya saya mengetahui siapa diri saya terlebih dahulu. Berdasarkan realitasnya, saya merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di sebuah Bangsa yang disebut Indonesia. Predikat mahasiswa yang diusung tentu identik dengan pemuda, sosok yang penuh gelora, semangat, serta harapan dan cita-cita. Saya sebagai pemuda dengan fitrahnya tentu memiliki itu semua. Namun, dalam konteks “mau dikemanakan sifat tersebut”, itu yang menjadi titik persimpangan. Secara sederhana mungkin bisa disebutkan adanya dua golongan dalam melanjutkan perjalanan dari titik persimpangan itu, golongan kanan dan golongan kiri. Golongan kanan merupakan  orang-orang yang melakukan kebaikan, baik itu diawal, tengah, dan akhir dengan harapan tujuan berupa hasil yang sesuai dengan apa-apa yang telah dikerjakan. Namun, untuk golongan kiri, memiliki tujuan yang sama-sama dengan harapan yang terbaik, namun tanpa memperdulikan prosesnya. Kedua hal tersebut akan menuju satu muara pembangunan yang jenisnya berbeda. Golongan kanan memiliki tujuan pembangunan dengan mengharap penuh keridhaan Allah SWT, sedangkan golongan kiri dengan pembangunan yang fana (walaupun berhasil, bersifat sementara). Perbandingan keduanya bagaikan orang mukmin dan kafir,seperti telah tersebut dalam FirmanNya: “Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?” (Q.S. Al Hud: 24)   
            Sebagai seorang muslim, tentu saja secara pribadi ingin menjadikan diri seorang mukmin yang tidak hanya berorientasi pada tujuan semata dalam pembangunan tersebut, namun pada awal, proses, dan penyelesainnya juga. Sebagai seorang mahasiswa, tentu saja saya ingin tidak hanya mengandalkan teori untuk membuat diri semakin berkembang dan menjadi sarjana “lumpuh”. Namun dedikasi, integritas, loyalitas terlatih, kejujuran yang ikut pula diwisudakan dan siap terjun dalam medan apapun. Sebagai seorang pemuda, tentu saja saya tidak ingin menjadi beban, tetapi turut serta memikul beban terutama dalam bidang pembangunan bangsa. Dan, sebagai warga Negara Indonesia ini, saya wajib melakukan sesuatu untuk Negara ini. Pada dasarnya, seseorang yang sedang melewati masa studinya di kampus terbatas dengan lingkungan kampus sebagai laboratorium kehidupannya. Kampus memang bisa dikatakan seperti itu, miniatur Negara. Pembangunan bangsa ini dapat dilihat dari kualitas para pemuda tersebut, apakah hanya studi oriented, sekuler, liberal, agamis, atau yang lainnya. Jika kualitas dan spesifikasinya yang dikeluarkan dari laboratorium tersebut rusak, dimana lagi mengharapkan cadangan keras masa depan, para pelopor yang penuh jiwa kepemimpinan, dan yang mampu membuat kehidupan nyata dalam sebuah Negara ini menjadi aman, damai, dan sejahtera. Mulai dari diri sendiri, itu yang sebaiknya harus dikatakan. Jangan sampai kebenaran depan mata tidak kelihatan, kebathilan di seberang pulau terlihat jelas. Janganlah kita (termasuk saya) sibuk mencari kesalahan orang lain. Memperbaiki dan istiqomah dalam aqidah yang lurus, melakukan kewajiban dan hak seutuhnya, menyebarkan kebenaran dengan prinsip amar maruf nahi munkar dan terus bergerak dengan memberi penuh kemanfaatan pada lingkungan sekitar dapat menjadi upaya yang bisa dioptimalkan.
            Pembangunan Negara ini yang komprehensif tentu sangat diharapkan, baik yang terdapat di organisasi sektor publik, privat, maupun nirlaba. Pada hakikatnya tersebut pembangunan yang baik harus berasal dari yang baik pula, namun tidak hanya baik, tetapi juga benar. Membangun diri dalam kebenaran dan kebaikan lebih sulit daripada menumbuhkan sikap kepemimpinan. Kebenaran yang hakiki yang diinginkan tidak hanya dibangun dalam pondasi bagaimana kita menyikapi sesuatu dengan baik, tetapi juga kebenaran yang disepakati dengan hati dengan mengharap keridhaan-Nya. Pembngunan yang diharapkan tidak hanya sesaat dalam sebuah kerangka yang rapuh, namun diperlukan pondasi berupa SDM yang kokoh. Terus meng-upgrade diri dalam bidang keilmuan yang ditekuni dalam upaya untuk terus beljar, serta yang terpenting adalah bergabung dalam sebuah jamaah membuat pondasi tersebut semakin kokoh.