Produk
soup cream yang akan dipasarkan ke area publik, diperkirakan masih dalam tahap
awal. Tahap permulaan dalam siklus daur hidup produk masih dalam tahap
perkenalan. Dalam tahap ini produk masih belum
dikenal oleh konsumen. Sehingga produk yang akan dipasarkan masih banyak
perlu penanganan khusus dari produsen. Secara nyata pada tahap perkenalan ini
banyak terjadi pertumbuhan penjualan yang lambat. Pertumbuhan
penjualan ditandai hasil yang lambat dalam mencapai target pemasaran dan
keuntungan. Pertumbuhan yang lambat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah kelambatan dalam
perluasan kapasitas produksi, masalah
teknis, kelambatan dalam
penyediaan produk untuk konsumen terutama di bidang distribusi melalui pengecer, serta keengganan konsumen untuk
mengubah pola kebiasaan.
Pada tahap ini perusahaan cenderung menjual barangnya lebih
tinggi dan membatasi produk, alasannya ongkos produksi yang masih tinggi,
masalah teknologi yang belum sepenuhnya dapat diatasi, dan biaya promosi
tinggi. Selain itu dapat juga
dilakukan upaya yang diantaranya adalah melakukan promosi produk di berbagai
media dan melakukan promo harga. Melakukan promosi produk dilakukan agar produk
soup cream yang di tawarkan akan lebih sering dikenal dan familiar di konsumen.
Hal itu mampu mempengaruhi keputusan konsumen, terutama dalam situasi atau
keadaan yang tidak terduga. Menurut Kotler, Bowen,
dan Makens (1990) dalam Kohler (1997) terdapat
dua faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang dalam proses pengambilan
keputusan pembelian, yaitu situasi tidak terduga (Unexpected situation) dan sikap terhadap orang lain (Respect to Others). Sebagai produsen, kita mengeluarkan promosi produk baru (soup cream) untuk usaha yang dimaksudkan untuk menyebar luaskan, memperkenalkan kepada
para konsumen. Dengan promosi produk baru ini menjadi hal yang sangat penting
untuk mengenalkan produk baru, setidaknya perhatikan faktor pendukung STP (segmentation, targeting, positioning)
dan marketing mix (product, price, place
dan promotion, procurement, public awareness) (Purba 2011). Promo harga dapat
dilakukan juga pada soup cream yang baru di kenalkan,hal ini tentunya di dukung
oleh finansial produksi yang sangat baik. Jika hal ini dilakukan, pangsa pasar
diperkirakan akan luas karena dapat menjangkau semua lapisan untuk mencoba
merasakan produk. Dalam beberapa kasus, beberapa produk yang sudah menjadi
kebiasaan konsumsi dan dikenal brand
nya lebih dapat bertahan lebih stabil. Menurut Kohler (1997), beberapa strategi
yang dapat dilakukan dalam tahap perkenalan sebuah produk adalah:
a.
Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy)
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi
yang tinggi. Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh
keuntungan yang mana akan digunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari
pemasaran.
b.
Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit
promosi. Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi
untuk menekan biaya pemasaran.
c. Strategi penetrasi cepat (rapid
penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya
promosi yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat
dan pangsa pasar yang paling besar.
d.
Strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah
dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat
dan biaya promosi yang rendah
Perkembangan produk di masyarakat
pada setiap produk memiliki kesempatan untuk mencapai tahap dewasa. Pada tahap
ini ditandai dengan tercapainya titk tertinggi dalam penjualan perusahaan.
Dalam tahap ini dilakukan strategi pemasaran kreatif untuk memperpanjang hidup
suatu produk termasuk produk soup cream, strategi tersebut dapat disebut
innovative maturity. Hal tersebut mendukung agar dilakukan upaya-upaya yang
mampu mempertahankan kelangsungan hidup produk. Upaya yang dapat dilakukan pada
saat produk soup cream ini mencapai tahap kedewasaan meliputi inovasi varian
rasa, menciptakan produk baru yang sejenis, serta terus mengembangkan
keunggulan produk. Inovasi varian rasa yang sering dilakukan pada setiap produk
konsumsi, dapat juga digunakan pada produk soup cream. Berbagai hasil laut
dapat digunakan sebagai variasi untuk rasa maupun flavor yang khas. Seperti
kita ketahui, bahan baku yang berasal dari laut memiliki kandungan protein yang
tinggi, sehingga pada asam amino yang terdapat didalamnya mampu mmberikan
pengaruh pada produk yang dihasilkan. Tidak hanya terbatas pada udang, beberapa
jenis ikan laut dapat digunakan dalam pembuatan soup cream tersebut.
Menciptakan produk baru yang sejenis dilakukan untuk me-refresh pandangan konsumen serta mengurangi resiko negatif dari
kejenuhan konsumen. Pada tahapan maturity, menciptakan produk baru yang sejenis
ini dapat dilakukan pada tahap Stable
Maturity yaitu tahap dimana penjualan menjadi datar yang disebabkan oleh
jenuhnya pasar. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah terus mengembangkan
keunggulan produk. Hal itu dapat dilakukan untuk menggenjot penjualan jika
sempat terjadi penurunan. Secara nyata antisipasi penurunan penjualan dapat di
antisipasi dengan mningkatkan kepercayaan konsumen, dengan meningkatkan
keunggulan produk. Pada tahap akhir upaya yang dilakukan dapat berupa melakukan
promosi iklan terus menerus yang lebih menarik. Hal ini dapat menunjukkan
promosi merupakan bagian dari komunikasi antara produsen dengan konsumen.
Sehingga kestabilan promosi atau bahkan inovasi promosi harus dilakukan untuk
menjaga produk soup cream pada saat mencapai tahap kedewasaan.
Dalam melakukan promosi agar dapat efektif perlu adanya bauran promosi,
yaitu kombinasi yang optimal bagi berbagai jenis kegiatan atau pemilihan jenis
kegiatan promosi yang paling efektif dalam meningkatkan penjualan. Dalam hal
ini ada empat jenis kegiatan promosi, antara lain (Purba 2011):
1. Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non
personal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang
pembelian. Periklanan menawarkan suatu produk kepada konsumen dengan cara
mengemukakan alasan supaya membeli
2. Penjualan
Tatap Muka (Personal Selling), yaitu
bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan
dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian atau kegiatan
mempromosikan suatu produk dengan cara mendatangi ke tempat konsumen berada,
oleh seorang wiraniaga/salesperson. Dengan adanya kontak langsung antara
wiraniaga dan konsumen, maka terjadilah komunikasi dua arah.
3. Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi
non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan
mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat ilmiah) atau merupakan usaha untuk merangsang permintaan dari suatu produk secara non
personal yang bersifat komersial. Tentang produk tersebut di media cetak dan
media elektronik, maupun hasil wawancara yang ditampilkan dalam media tersebut.
Cara ini sangat baik untuk memperkenalkan perusahaan atau produk yang
dihasilkan, karena publisitas dapat mencapai pembeli yang potensial yang tidak
dapat dicapai dengan advertensi dan personal selling.
4. Promosi
Penjualan (Sales promotion), yaitu
suatu bentuk promosi diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk
merangsang pembelian. Promosi penjualan menawarkan suatu produk dengan cara
memberikan perangsang supaya membeli. Perangsang ini bisa berupa uang, barang
atau pelayanan tambahan lainya yang biasanya tak disertakan bersama produk
tersebut.
Kotler, Philip (1997), Marketing Management Analysis, Planning Implementation and Control, 9nded. New Jersey: Prenctice-Hal, Inc, dalam Kismono (2001:342).
Purba F H K.
2011. Memikat konsumen dengan Promosi. http://pondokibu.com/2453/memikat-konsumen-dengan-promosi/
[24 Mei 2012]

