Selasa, 12 Maret 2013

'Muslim Negarawan' ku

Seribu satu hari dilewati, di bawah langit yang sama selalu menemani
                Tidaklah cukup kita menabur janji, bukti sejati yang selalu diharapkan KAMMI

    Pantun pengantar di atas menunjukkan bagaimana, kita yang merupakan bagian dari KAMMI mungkin telah dirasa ‘banyak’ melewati hari-hari bersama KAMMI. Layaknya sebuah komunitas maupun organisasi yang mengharapkan untuk dibesarkan dari para pengusungnya, bukan sebaliknya. Berisi para pemuda yang syarat akan semangat, harapan, dan cita-cita serta tentu saja modal intelektual. KAMMI memiliki visi sebagai wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islam di Indonesia. Pemimpin masa depan yang tangguh dalam visi tersebut mungkin perlu digarisbawahi, karena disitulah salah satu output dasar yang nyata sebagai awal membentuk masyarakat yang Islami. Sosok seorang pemimpin diharapkan mampu mengubah jalannya kondisi maupun gejala sosial yang sedang berlaku di masyarakat. Pemimpin yang ideal, mungkin itu yang didambakan. Tapi, ke-’ideal'-an seorang pemimpin masih terlalu abstrak jika kita hanya berpatok pada pemikiran individu maupun kelompok. Cukuplah apa yang diturunkan dan contoh yang diberikan oleh Sang Pencipta setiap makhluk jadi ukurannya dan bisa disepakati. Ayat 120 dalam Surat An Nahl dapat menjadi telaah tentang sosok Ibrahim alaihissalam sebagai pemimpin, ‘Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)’. Setidaknya dalam ayat tersebut menjelaskan dua syarat menjadi seorang pemimpin. Pertama adalah sikap patuh kepada Allah dan yang kedua adalah bersikap hanif, tentang kata ini al Hafizh Ibn Katsir mengartikan hanif adalah menyimpang dari syirik, menuju tauhid. Dari kedua hal tersebut, diyakini bahwa seorang pemimpin adalah orang yang mampu menjaga keyakinannya dan menyandarkan dirinya pada ketauhidan. Sosok pemimpin yang diharapkan dalam Visi KAMMI, sosok yang berpasrah diri (Islam) kepada Tuhannya yang abadi. Seorang Muslim.
    “Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak ada, maka yang lain tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah pondasi sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya pondasi akan rusak dan jika tidak dijaga, ia akan hilang” itulah yang dikatakan oleh Imam al Ghazali terkait agama dan kekuasaan. Kekuasaan yang tidak dapat dipisahkan dari agama (Islam) tersebut tidak akan dimiliki tanpa adanya kepemimpinan. Hal tersebut telah di contohkan oleh pemimpin terbaik, Muhammad salallahualaihi wassalam. Pemimpin yang membuat dunia bersimpati dengan para pengikutnya dan apa yang diperjuangkannya. Beliau menunjukkan kekuasaan terbaiknya walaupun terkadang tidak tersurat. Madinah yang merupakan kota dengan masyarakat Islami pertama yang sukses Beliau terapkan dengan melalui segala pengorbanan dan perjuangannya. Seperti Madinah yang merupakan teritori masyarakat Islam yang dibangun sebelum menyebarkannya lebih luas lagi, KAMMI pun berusaha dalam semangatnya membangun masyarakat Islami di wilayah Indonesia. Sehingga, kemampuan anggotanya untuk mengenal dan memahami Negara yang menjadi wilayah geraknya sangat diperlukan. Negarawan mungkin menjadi kata yang tepat untuk sosok yang mampu mengenal bahkan hingga berkorban untuk negaranya. Dalam artian secara lebih panjang menyebutkan bahwa negarawan merupakan orang yang berjasa dan rela berkorban demi bangsa dan negaranya serta mendahulukan kepentingan bersama dalam mengambil setiap keputusan. Tapi, bagi penulis yang merupakan rakyat biasa yang berusaha mencinta negaranya dengan sederhana mengartikan bahwa seorang  negarawan itu tidak membuat susah Negara dimana tempat hidupnya. Tidak ada yang mampu mengukur niat, dalam hal lainnya seperti ilmu dan pengorbanan yang semakin tinggi, namun hal tersebut membuat semakin sombong, tidak tahu diri, dan minta imbalan (baca: korupsi). Hal demikianlah yang harus dilawan dan dihindari. Pola pikir dan gerak seorang anggota Negara mampu memberikan yang terbaik untuk Negaranya, namun imbalan yang diharapkan adalah dari sang Pencipta Negara berdiri dan setiap makhluk yang mengisinya, yaitu Allah Azza wa Jalla. Orientasi ini tidak ditemukan dalam ilmu kenegaraan, ekonomi, ataupun sosial yang mengajarkan materialisme, untung-rugi (oportunistis), dan humanisme. Orientasi yang didapat ketika mengetahui dan memahami Islam secara menyeluruh. Begitulah jiwa, semangat dan dasar seorang negarawan yang diharapkan, bersandar pada hal yang bersifat abadi. Sehingga, mampu melakukan yang terbaik tidak hanya Negara yang dihadapinya sekarang, tetapi juga negeri akhirat kelak. Memperoleh sebaik-baiknya tempat kembali tidak hanya untuknya , tetapi juga untuk setiap yang dipimpinnya. Itulah ‘Muslim Negarawan’ku.
Picture from: kammi ipb
Reza Dewantoro, Anggota Biasa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
Institut Pertanian Bogor
Bogor